Sangatta – Di balik gemerlap berita ASN berprestasi, ada satu nama yang tidak muncul di media nasional, tidak dapat piagam, tidak punya lencana, dan tidak ikut pencitraan. Tapi suaranya bikin Sekretariat TAPD gelisah: Batta.
Lahir di Polewali, dibesarkan di Campalagian, merantau ke Sangatta demi kuliah bukan demi jabatan. Ia masuk STIPER Kutai Timur jurusan Teknik Pertanian. Tapi hari-harinya lebih banyak diwarnai diskusi, advokasi, dan demonstrasi.
“Saya memang bukan ASN teladan. Tapi saya pernah bela PKL lawan Indomaret, Saya tidak dapat Bintang Satya. Tapi saya pernah bela Pak Benang di Bengalon, Saya tidak masuk headline media pemerintah, tapi saya pernah sidang KIP lawan Pemkab, tapi cerita saya begini gak mungkin diliput media nasional atau media lokal lainnya, mereka lebih suka liput ASN berprestasi,” ucapnya sambil tersenyum.
Itulah Batta, aktivis jalanan mantan ketua HMI Teknik Pertanian, terlibat dalam organisasi seni budaya juga anggota Anak Rimba dan jadi pionir di Fraksi Rakyat Kutim. Dia bukan siapa-siapa kecuali kalau bicara soal konsistensi.
Waktu RKPD 2025 disusun, Batta mendengar kabar aneh.“Katanya disusun tim TAPD, tapi kok yang dominan satu orang?” Batta geleng-geleng
Maka, ia mengirim laporan resmi. Bukan status Facebook. Bukan komentar anonim. Tapi dokumen resmi dengan nomor, tanda tangan, dan lampiran KTP. Saking seriusnya, kalau bisa RKPD itu dibatalkan, sekalian diseminarkan ulang dengan semua OPD.
Beberapa hari kemudian, muncullah berita: “ASN Berprestasi, ASN Arsitek Pembangunan Kutim! dan banyak tajuk lainnya” dia pun bingung: “Wah, ini ASN atau Avengers?,”tanyanya. Tapi ia tidak marah. Ia cuma minum kopi dan bilang,“Prestasi boleh dibangun lewat berita, tapi kebenaran dibangun lewat prinsip,” tegasnya.
“Menjadi aktivis bukan soal viral, tapi soal keberpihakan,” kata Batta. Ia sudah berkali-kali ditawar jadi “kaya”, dilobi agar diam. “Sekali bilang A, maka A. Sekali lawan, maka lawan asal kita benar dan untuk masyarakat luas, tapi ya begitulah sekali menulis laporan, maka siap-siap dituduh subversif,” jelasnya.
Dari membaca iqra, ia belajar bahwa setiap kebijakan mesti dikaji. Jangan telan mentah-mentah, nanti sakit perut demokrasi. Sebab kata Wiji Thukul “Bila rakyat tidak berani mengeluh, itu artinya sudah gawat, Bila omongan penguasa tak boleh dibantah, kebenaran pasti terancam,” tutupnya.







































